Minggu, 06 Maret 2011

Mertua yang Perhatian

Cerita panas mengenai skandalku dengan ibu mertua memang masih menjadi rahasia pribadi
sampai saat ini. Berikut cerita selengkapnya.
Banyak yang bilang bahwa kalau kita habis makan sesuatu yang berminyak
lalu tangan kita diusapkan ke tungkai kaki kita maka kita akan disayang mertua.
Aku sering melakukannya, tapi aku nggak yakin kalau hal itu benar,
sampai suatu hari aku benar-benar membuktikannya.

Aku dan istriku hidup terpisah dari mertua, tapi tak jauh, masih satu
kota. Karena berdua bekerja, anakku tiap hari kutitipkan pada mertua
atau neneknya anakku. Pagi kuantar ke sekolah, siang dijemput neneknya
dan sorenya sepulang dari kerja aku jemput anakku dan kubawa pulang.
Untuk anakku memang mertuaku adalah neneknya, tapi jangan berfikir
mertuaku sudah nenek-nenek. Dia masih cling diusianya yang memasuki
50-an. Dia sudah janda ditinggal mati.
Ceritanya begini. Hari itu setelah nganterin anakku ke sekolah pagi,
aku sempatkan mampir ke rumah mertua mau ngasihin uang sekolah dan uang
jajan anakku seperti biasanya setiap awal bulan. Hari itu suasana rumah
sepi, adik-adik iparku sudah pada pergi kerja dan kuliah. Jadi hanya
mertuaku, atau biasa kupanggil Mamih, di rumah. Kuketuk pintu nggak ada
yang nyahut, tapi waktu pintu kudorong, tak terkunci jadi aku langsung
masuk. Karena saking kebelet kencing, aku langsung menuju kamar mandi.
Kudorong pintu, terbuka dan tanpa tengok kiri kanan langsung
soooooorrrr, enak tenan. Ya karena kupikir nggak ada orang dirumah, aku
sudah buka celanaku sebelum masuk kamar mandi. Eee a laaa begitu aku
balik kanan mau cuci kontolku yang sudah nogong dari tadi nahan
kencing, di depan ku berdiri si Mamih telanjang hanya dililit handuk
sebatas dada. Membelalak matanya menatap kontolku, sementara akupun
terbelalak menatap bodinya yang meski sudah umur tapi maih mulus,
putih. Payudaranya yang seperti dua buah pepaya menggelantung,
menyembul tak kuasa tertutup handuk kami berdua terpana, tak bergerak,
hanya kontolku yang mengacung berkejut-kejut antara mau layu sehabis
kencing dan mau tetap tegar merespon mataku yang tak berkedip menatap
susu yang besar menggelayut. Susu yang besar memang selalu jadi
idamanku, karena susu istriku kecil sekepal tanganku.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba aku sudah mengelus bundaran di dada
yang kenyal itu, sementara kontolku juga terasa dielus-elus lembuuuuutt
sekali. Aku pejamkan mataku merasakan elusan itu sambil merasakan pula
kenyalnya daging birahi. Kuplintir putingnya yang kanan dengan tangan
kiriku sementara tangan kananku meremas-remas buah yang kiri. Kudengar
dia melenguh membuang nafasnya yang kurasakan hangat dimukaku. Lalu
kurasakan bibirnya menyentuh bibirku, mendesakkan lidahnya yang
kusambut dengan membuka mulutku. Lidahnya liar menggapai-gapai atap
mulutku, mengusap-usap pangkal lidahku, niiiikkkkkkmmmaaatt banget.
Belum pernah aku berciuman seperti itu seumur-umur. Aku coba imbangi
dengan ikut memainkan lidahku, ternyata lebih nikmat lagi. Pelan-pelan
dia tarik kontolku, rupanya dia mengajakku beranjak dari kamar mandi.
Dibimbingnya tongkatku laksana seorang buta dituntun dengan menggandeng
tongkatnya. Dia terus menciumku tanpa melepasnya sembari jalan menuju
kamarnya yang tak begitu jauh. Sesampai di sana direbahkannya aku,
telentang dan dia di atasku. Kini tak sehelai benangpun menutupi
tubuhnya, sementara aku masih mengenakan baju dan celana dalam yang
sudah mlorot ke paha. Tangan kirinya tak lepas dari kontolku,
mengurut-urutnya sampai-sampai aku merasakan hampir bobol pertahanku,
karena merasakan sesuatu yang lain dari biasanya. Tangan kanannya mulai
membuka kancing-kancing bajuku, sambil mulutnya terus bertengger di
mulutku, berperang lidah. Terbuka sudah seluruh tubuhku kecuali
cancutku yang kini tengah diplorotin. Dia turun ke arah selangkanganku,
membelai-belai kontolku yang kian menegang, terlihat mengkilat helemnya
dengan setitik cairan bening di lubangnya.
Tak kusangka, dia mau meloco kemaluanku. Dijilati bagian bawah batangku
benar2 enak, sementara tangannya tak henti-hentinya mengusap-usap
lembut buah pelirku yang penuh jembut lebat. Dan, “aaaaaakkkkkhhhh,
Miiiiiiihhhh” hanya itu yang bisa kulenguhkan. Kini dimasukkannya
batangku seluruhnya. Entah sedalam apa mulutnya kok bisa menampung
batang kontolku yang lebih dari 12 cm. Istriku kadang suka mengeluh
sakit kalau buru-buru kumasukkan basokaku ke memeknya yang baru mulai
basah. Dia bilang basokaku gedhe banget. Temenku juga pernah bilang
begitu waktu kita mandi sama-sama sehabis berenang: “Ris, kontolmu gede
amat sih”. Memang kontolku unik, sebenarnya yang gede hanya kepalanya,
garis tengahnya sebesar pantat gelas plastik Aqua, tapi batangnya ke
pangkal mengecil sampai sebesar pipa pralon ukuran ?.
Dilumati terus dengan berbagai teknik yang sulit digambarkan, aku nggak
tahan juga. Kujambaki rambut si Mamih sambil melenguh, “Miiiih,
akkkkuuu mmmmaaaauuuu kelllllluaarrrrr”. “Keluarin ajahhhh, biar ku
telllleeenn.” Hiiiii, apa nggak jijik mmmmmiiiiihhh” “Nggggaaaaa,
buat awet mudaaaaa, pittttttaaaaammmmiiinnn. Sambil melenguh keras
kusemburkan air mani yang sudah mendesak-desak dari tadi, beberapa kali
semburan. Lima-enam kali semprotan maniku semua nyembur di dalam mulut
Mamih, tak setetespun keluar. Kudengar suara menelan, “Glleeecck
glllekk”. Lalu terus dijilati kepala kontolku sampai bersih dan
mengkilat lagi. Gellii banget, kalau habis keluar dipegang apalagi
dijilati. “Eeeeeeuuuuuhhhhh” Akupun menggelosor kecapaian. Plong banget
rasanya dada ini setelah hampir setengah jam dipacu. Lama juga
permainannya. Kupikir usai sudah permainan, eeeh nggak tahunya dia
nggak juga nglepasin kontolku. Terus saja dijilati, diloco,
dikocok-kocok, sambil dia membalikkan tubuhnya. Diarahkannya pantatnya
ke arahku, dia masih di atasku jadi sekarang wajahku tepat di bawah
memeknya. Seumur-umur pula aku belum pernah menjilat memek, tapi entah
kenapa saat itu dengan serta merta kupegang pantatnya yang ternyata
masih padat, kuturunkan sedikit sehingga memeknya dapat kuraih dengan
mulut dan lidahku. Kujilati bibir memeknya, kucucrup itilnya yang cukup
besar yang sembunyi dibalik selaput tertutup jembut yang tak begitu
tebal. Kumakan memeknya sebisaku, kupraktekkan hasil dari nonton BF
selama ini. Dan ternyata, kurasakan memeknya membanjir meleleh ke ujung
hidungku. Baunya asem-asem sedep. Ini barangkali yang kata temen-temen,
bau comberan rasa duren. Aneh juga seih, kenapa bau yang mestinya nggak
sedep ini kok tercium sedep juga, bahkan kini aku semakin geram
mencucrupi memeknya. Kutusuk-tusukkan lidahku ke lubang memeknya yang
makin berlendir. Aku sudah tak mikirin lagi kontolku lagi diapain
karena saking asiknya bermain dengan memeknya yang makin lama makin
mengasyikkan. Tiba-tiba, kurasakan asin memuncrat ke lidahku dan
kudengar dia mengerang seperti kesakitan: “Riiiiiiiisssss,
akkkkkkuuuuuuu???.” Dan hhheeeeggg memek dan pantatnya yang besar
menjatuhi mukaku, menutupi seluruh wajahku membuatku nggak bisa
bernafas. Ku dorong ke samping, lantas dia menggeser badannya dan
berbalik, lalu menciumiku sertubi-tubi. “Riiissss, eennnakkkk sekalli,
udah lama Mamih nggak ngerasain yang begini.” Iya Mihh, aku juga baru
kali ini ngrasain enaknya diloco, mau nggak Mamiih ngloco lagi lain
kali” “Mau dong. Kamu mau nggak ngrasain sesuatu yang belum pernah kamu
rasakan selama ngewe” ” Apa itu Miih?” “Ayo lah, masukin kontolmu ke
memekku, kamu pasti ketagihan nanti.”
Dan permainan pun belum juga usai. Dia telentang mengangkangkan
kakinya. Kulihat lubang memeknya yang basah kuyup, dilap dengan celana
dalamku, dan kini agak kering lembab. Dituntunnya kontolku memasuki gua
gelap nan lembab. Bllleeeeeesss, nggak ada kesulitan karena sudah
berlendir, dan rudalku juga sudah mulai ngaceng lagi setelah diloco
bermenit-menit. Aku memang merasakan sesuatu yang lain. Memeknya terasa
bergerigi, seperti ada jonjot-jonjot di dinding-dindingnya. Memek
istriku nggak seperti ini rasanya. Aku bener-bener nggak tahan.
Daripada nyembur sebelum waktunya, lebih baik kutahan saja, jadi
kubiarkan kontolku diam dijepit memeknya yang masih tetap kencang meski
sudah melahirkan enam kali. “Miiiih, akkuu nggakkk tahaann. Memek Mamih
ennnakkk baangeett. Kayaa ada pasirnyaaa” Dia tersenyum penuh arti
“Riiiisss, ittu belum seberapa. Kamu diaaamm saajaa, biiar kugoyang
yyaahhh”. Benar saja, kontolku yang ? tegang dikilir kiri kanan ke atas
ke bawah. Benar2 profesional. Terkadang kurasakan kontolku seperti
ditolak, didorong keluar, tapi belum sempat keluar gua, kurasakan
kepalanya disedot, keras sekali. Meskipun aku diam saja, tapi kontolku
serasa disedot, ditiup, diplintir, ngilu-ngilu enaaaakkk sekali. Aku
tak tahan, kugenjot juga akhirnya, pelan-pelan kutarik, kubenamkan lagi
maju mundur. Dan sensasi yang kurasakan semakin tak terlukiskan
manakala kutarik keluar, tapi dari dalam memeknya kontolku disedotnya
habis-habisan. Entah gimana caranya dia punya memek bisa seperti
mengulum-ngulum batang dan kepala kontolku. Inikah yang disebut empot
ayam?
Makin lama kupompa, rupanya diapun sedang menikmati pompaanku, buktinya
kulihat wajahnya merah meranum dan matanya meredup-redup. Lalu
tiba-tiba dia goyangkan pantatnya keras-keras kiri-kanan-kiri-kanan,
diangkat tinggi-tinggi sambil melenguh “Riiiisssss, tekeeeen yaaaaaang
kerrrraaaasssss?.. aaakkuuu mmmaaaauuuu keeelluuuaaaar?.. ayyyoooo
kkaaaamu jugaaaa barreeeennng biiiiaarrr taaaahhhuuu apppaaa yaaanggg
mmmmaaaaammmiiih bilaaaanng taaaadddddiiiiii”. Kutekankan keras-keras
rudalku, daleeeeem sekali, sambil kupegang pantatnya, dua-duanya
kuratik mendekat ke pangkal kontolku. Serasa kontolku amblas masuk
memeknya sampai sa peler-pelernya, daannnn “Miiiiiihhhhhh akkkkku
kelllluaaarrrrrrrr” “Akkkuuuuuu juggggaaaa” ?.. sesaat kurasakan
dinding2 memeknya berdenyut-denyut keras sekali tapi berirama, dan pada
saat itu pula aku semburkan isi pelirnya. Serasa diperas-peras sampai
pol-polan nggak tersisa sedikitpun di dalam tandonnya. Sementara
semprotan maniku sudah selesai, kontolku masih merasakan
denyutan-denyutan memeknya. Hebat benar Mamihku ini. Sudah keluar juga
masih mendenyut atau mungkin keluarnya panjang karena bersamaan dengan
itu lalu kurasakan semburan hangat ke kepala kontolku yang masih
tertanam dalam sekali di gua birahinya. “uuuuuuuuhhhhhhhhhhhhh
eeehhhhh, uuuuhhhhh” hanya itu suara yang keluar dari mulutnya. Matanya
memejam, tapi kedua tangannya masih mencengkeram pantatku seolah-olah
aku nggak boleh mengangkatnya. Lalu kami berduapun terdiam sejenak.
Diciuminya mukaku, dijilati pipi dan telingaku, turun ke dagu, leher
dan putting susuku kiri kanan. Ooooohh nikmatnya. Baru kali ini aku merasa
bener-bener puas kontolku. Sebuah pengalaman baru. Ternyata makin tua,
perempuan bukan makin tak enak seperti yang selama ini terpatri di
benakku dan mungkin juga benak setiap lelaki, sehingga khayalannya
hanya ingin mencari dan ngewe sama perempuan2 muda dan anak-anak ABG.
Terbukti kini bahwa pengalaman adalah segala-galanya. Meski mungkin
memek sudah kendor, longgar tapi teknik makin canggih, jadi rasanya
lebih gurih.
Kuciumi pula wajahnya, bibirnya, dagunya, lehernya dan akhirnya putting
susunya. “Miiiihhh, gimana sih rasanya dijepit pakai susu” “Besok
datang lagi yaa, ntar Mamih jepit rudalmu. Pantesan si Ita (istriku)
lengket banget sama kamu, rupanya kontolmu istimewa. Bagi-bagi terus
sama Mamih ya biar Mamih panjang umur, makin sayang sama kamu, sama
anakmu. Nanti Mamih sediain jamu biar kamu tetep seger, tambah kuat.
Malem buat Ita, pagi buat Mamiih yaah” Tingkahnya macam ABG lagi
pacaran saja, menggeleyot menuntunku ke kamar mandi. Akupun dimandiin.
“Miiih, nanti si Ita dikasih resepnya, biar kelak tuanya kayak Mamih,
jadi awet muda terus. Tapi akan aku awasi habis-habisan, jangan-jangan
mantuku yang ngrasain” “Hussh, nggak boleh, cukup Mamih saja”
Sampai saat ini hubungan ini terus berlanjut, dan kehidupan rumah tanggaku semakin bahagia.